Seorang guru matematika datang membawa penggaris
beserta spidol, sebut saja namanya ibu fatmawati. Kami semua masih bingung,
penggaris tersebut akan digunakan untuk mengajar atau menghajar kami. tapi
seiring debu berterbangan, ternyata ibu guru membawa penggaris untuk mengajar.
“Alhamdulilah” ucap teman sebangku ku.
Pesan moral: usahakan debu dikelas mu tetap
berterbangan, supaya kamu tau jawaban dari sebuah pertanyaan(gak nyambung +Cuma becanda).
Guru matematika kami sedikit ganas binti killer,
ditambah lagi dengan kebiasaannya menjewer telinga kami. Ada dua faktor kenapa
kami selalu mengerjakan PR, pertama karna kami takut ditabok, kedua karna kami
takut digigit(becanda). Tapi menurutku,
seharusnya kita mengerjakan PR semata-mata untuk menjalankan tugas kami sebagai
pelajar (ciee.. pesan moral).
Kembali ke laptop, guru itu duduk dan memberikan
soal. Dan Aku ingat betul apa bunyi soal itu, “u1=5 dan u7=35,
tentukan u73 !”, Aku dan Irwan mulai khusyuk menjawab soal. Sudah terlalu banyak waktu yg berlalu, namun
soal yg menjajah itu tak kunjung terjawab. Ketika guru sedang berkeliling
sambil melihat kami yg sedang berusaha menemukan jawaban, guru melihat jawaban
kami yg memang dari awal sudah salah, dan alhasil kami kena jeweran binti cubitan
dari guru itu.
Aku dan Irwan tidak bisa menjawab soal karna sejujurnya Kami sama sekali tidak
memiliki selera dalam pelajaran matematika. Sekuat apapun kami berusaha
mempelajari mata pelajaran ini tapi tidak ada satupun materi yg nyangkut di
kepala kami. Dan disini aku tau, belajar tanpa menyukainya hanya mengotori
memori dan tak berbekas di dalamnya.
“Cobalah sedikit lebih keras untuk menjadi lebih
baik” adalah motto kami sebagai murid bodoh bin begok. Seiring dengan
perkembangan zaman, akhirnya kami sedikit mengerti. Ya, itu pun baru ngerti yg
namanya bagi kurung.
Keesokan harinya kami semua masuk ke habitat kami
alias kelas kami. “cuy, PR udah jadi
belum” ucap irwan di tengah pagi bolong, “iya cuy. Nah Elu udah belum?” aku
balik bertanya, “hamdan wa syukurilah,udah cuy”. Nyawa terasa aman pada hari itu.
Tapi tak tau kenapa, ada hal yg mengganjal hari itu.
Entah tugas yg lupa diselesaikan, salah ngerjain
PR, atau bahkan beum sikat gigi. Tapi, setelah di analisa oleh badan forensik,
ternyata memang benar ada hal yg salah di hari itu. ternyata aku salah membawa
buku, yg seharusnya bawa buku matematika ehh
kok malah bawa buku Mulok. Waduhh, udah cape-cape ngerjain PR sampe begadang di
siang bolong malah lupa bawa buku. Akhirnya, mau ga aku harus pulang.
Selepas lari dari lintang bujur utara menuju lintang
bujur selatan akhirnya buku matematika itu terlahap oleh tanganku. Setelah
menemukan buku akhirnya aku berlari cepat layaknya The flash menuju sekolah. Sesampai sekolah ehh ternyata gurunya udah masuk. “Asalamualaikum” acapku setelah
sampai dikelas, “Walaikumsalam, kenapa terlambat ke kelas ?, mana PR mu?” belum
apa-apa guru sudah berubah jadi Depcolector, “Abis dari anu.. dari anu..” gugup
dan tergesa-gesa mulai berpermentasi, “Abis dari Anu.. apa ? terus PRmu pie
kabare” ibu guru kembali bertanya-tanya dengan logat bahasa jawa,”abis dari
rumah ngambil buku matematika, soalnya tadi kelupaan. Ini PRnya Bu” kataku.
Setelah di periksa ternyata jwabanku dari nomer satu sampai lima tidak ada yg
benar secuil pun.
Lengkap sudah penderitaanku pagi itu, udah capek-capek ke rumah ehh malah salah, dan tak lupa pula
sepasang jeweran menghampiri telinga ku. Tapi tak apalah, setidaknya hari ini
aku mendapatkan penglaman. Ingat, pengalaman adalah guru yg kejam, tetapi kita
akan belajar dengan cepat.
Setelah di jewernya, akhirnya aku di perintahkan
untuk duduk di bangku. Selepas duduk di bangku ibu guru mengeluarkan sepatah
motivasi, “pendidikan mempunyai akar yg pahit, tetapi buah yg manis” ibu guru
memberi motivasi layaknya Mario teguh, “maksudnya ibu guru ?” kami dengan muka
melongo kembali bertanya, “maksutnya, mungkin sekarang kalian merasakan
pahitnya pendidikan, namun nanti kalian akan tau manisnya hasil perjuangan” ujar
guruku.
Setelah mendengar motivasi dari ibu guru, kebanyakan
dari kami tiba-tiba belajar sebegitu giatnya, termasuk irwan. Dan beberapa hari
kemudian UKK(Ujian Kenaikan Kelas) pun tiba. Tangan ku menari lemah gemulai
diatas clipboard. Dan hasilnya, lumayan memuaskan. Dari yg dulunya dapet
rangking delapan belas, sekarang meningkat menjadi tujuh. “Hamdan wa
syukurilah” ujar irwan yg letaknya entah dimana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar