Minggu, 08 Mei 2016

ADONAN TELAH MENJADI BAKWAN


      Pada suatu masa gue pernah suka sama cewek, sebut aja namanya Sindi. Awal kenal sama sindi, gue sama sindi Cuma sekedar nyamuk di tengah-tengah teman kami yg sedang berkencan, tau kan peran nyamuk di tengah tengah orang kencan, yg kerjanya Cuma bilang “cie-cie”.
    Setelah sekian bulan berpropesi jadi nyamuk gue jadi suka sama sindi, kata temen sejolinya sih katanya sindi itu juga suka sma gue, tapi hal itu belum gue tau pasti kebenarannya. Awal kelas dua smp gue makin suka sama sindi, dan pada akhirnya dia tau rasa hati gue untuk dia. Karna gue masih smp(terong-terongan) gue malu dong ketauan suka sama orang apa lagi di tau sama orangnya langsung. Dan sejak sindi tau gue suka sama dia, akhirnya propesi gue sebagai nyamuk telah berakhir, kata cie seakan sudah asing terucap & yg terpenting gue udah gk bisa ngomong sama sindi.
   Sekitar 2-3 bulan gue udah gak jadi nyamuk, jangankan jadi nyamuk, ngomong aja susahnya minta di gendong.alasan awal gue jadi nyamuk sih simple, gue Cuma mau diteraktir po-ice + bakso, tapi lama kelamaan gue jadi nyamuk Cuma gara-gara gue pengen ngomong sama sindi. Jujur aja, setelah propesi gue sebagai nyamuk berakhir hidup gue serasa kayak bakwan tanpa garam, alias Hambar.
    Dan akhirnya gue berencana buat nembak sindi. Tapi sebelumnya, gue nanyak sama teman sindi sebut aja namanya icha, gue nanyak seputar cara nembak cewek. Icha bilang sih lebih baik nembak cewek secara langsung, tapi jujur mulut gue udah kayak di paku alias kaku. Akhirnya gue menumukan ide untuk nembak sindi dgn cara memberi kertas yg bertuliskan “sindi, kamu mau gak jadi pacar aku”. Tapi, sekilas info, Tulisan gue pas kelas 2 smp tuh kayak tulisan ceker ayam alias berantakan feat  amburadul, jadi gue terpaksa harus membuat tulisan  tsb dgn cara print, tapi sayangnya gue gk punya mesin print dan harus menggunakan jasa print. Pas mau print, supaya gk dikirain si terong pemburu sama abang tukang printnya gue, harus memanipulasi nama filenya, nama filenya adalah “tugas bahasa Indonesia”, kebayang gk tuh.. gue dengan muka begok nyerahain flashdisk ke abangnya dengan nama file “tugas bahasa Indonesia” ehh.. tau-tau isinya senjata berburu.
    Dan hari ini adalah hari Hnya, gue memberanikan diri nembak sindi, dan jawaban sindi yg gk pernah gue lupain adalah “NGGAK”. Gilakkk itu rasanya kayak bakwan kebanyakan garam alias Asin banget.
    1 tahun berselam, sindi bilang dia kangen sama gue, dan gue jawab dengan yakin “siapa?” dia menjawab “ya kamulah” gue ,menjawab balik” yg nanyakkk ?” gue ngomong gini karna gue udah gk suka sama dia, ibaratkan adonan yg telah menjadi bakwan alias gk bisa diapa-apain, MAKAN TUH BAKWAN.





MOTIVASI DI PAGI ITU

Seorang guru matematika datang membawa penggaris beserta spidol, sebut saja namanya ibu fatmawati. Kami semua masih bingung, penggaris tersebut akan digunakan untuk mengajar atau menghajar kami. tapi seiring debu berterbangan, ternyata ibu guru membawa penggaris untuk mengajar. “Alhamdulilah” ucap teman sebangku ku.
Pesan moral: usahakan debu dikelas mu tetap berterbangan, supaya kamu tau jawaban dari sebuah pertanyaan(gak nyambung +Cuma becanda).
Guru matematika kami sedikit ganas binti killer, ditambah lagi dengan kebiasaannya menjewer telinga kami. Ada dua faktor kenapa kami selalu mengerjakan PR, pertama karna kami takut ditabok, kedua karna kami takut digigit(becanda). Tapi  menurutku, seharusnya kita mengerjakan PR semata-mata untuk menjalankan tugas kami sebagai pelajar (ciee.. pesan moral).
Kembali ke laptop, guru itu duduk dan memberikan soal. Dan Aku ingat betul apa bunyi soal itu, “u1=5 dan u7=35, tentukan u73 !”, Aku dan Irwan mulai khusyuk menjawab soal. Sudah terlalu banyak waktu yg berlalu, namun soal yg menjajah itu tak kunjung terjawab. Ketika guru sedang berkeliling sambil melihat kami yg sedang berusaha menemukan jawaban, guru melihat jawaban kami yg memang dari awal sudah salah, dan alhasil kami kena jeweran binti cubitan dari guru itu.
Aku dan Irwan tidak bisa menjawab soal  karna sejujurnya Kami sama sekali tidak memiliki selera dalam pelajaran matematika. Sekuat apapun kami berusaha mempelajari mata pelajaran ini tapi tidak ada satupun materi yg nyangkut di kepala kami. Dan disini aku tau, belajar tanpa menyukainya hanya mengotori memori dan tak berbekas di dalamnya.
“Cobalah sedikit lebih keras untuk menjadi lebih baik” adalah motto kami sebagai murid bodoh bin begok. Seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya kami sedikit mengerti. Ya, itu pun baru ngerti yg namanya bagi kurung.
Keesokan harinya kami semua masuk ke habitat kami alias kelas kami. “cuy, PR udah jadi belum” ucap irwan di tengah pagi bolong, “iya cuy. Nah Elu udah belum?” aku balik bertanya, “hamdan wa syukurilah,udah cuy”. Nyawa terasa aman pada hari itu.
Tapi tak tau kenapa, ada hal yg mengganjal hari itu. Entah tugas yg lupa diselesaikan, salah ngerjain PR, atau bahkan beum sikat gigi. Tapi, setelah di analisa oleh badan forensik, ternyata memang benar ada hal yg salah di hari itu. ternyata aku salah membawa buku, yg seharusnya bawa buku matematika ehh kok malah bawa buku Mulok. Waduhh, udah cape-cape ngerjain PR sampe begadang di siang bolong malah lupa bawa buku. Akhirnya, mau ga aku harus pulang.
Selepas lari dari lintang bujur utara menuju lintang bujur selatan akhirnya buku matematika itu terlahap oleh tanganku. Setelah menemukan buku akhirnya aku berlari cepat layaknya The flash menuju sekolah. Sesampai sekolah ehh ternyata gurunya udah masuk. “Asalamualaikum” acapku setelah sampai dikelas, “Walaikumsalam, kenapa terlambat ke kelas ?, mana PR mu?” belum apa-apa guru sudah berubah jadi Depcolector, “Abis dari anu.. dari anu..” gugup dan tergesa-gesa mulai berpermentasi, “Abis dari Anu.. apa ? terus PRmu pie kabare” ibu guru kembali bertanya-tanya dengan logat bahasa jawa,”abis dari rumah ngambil buku matematika, soalnya tadi kelupaan. Ini PRnya Bu” kataku. Setelah di periksa ternyata jwabanku dari nomer satu sampai lima tidak ada yg benar secuil pun.
Lengkap sudah penderitaanku pagi itu, udah capek-capek ke rumah ehh malah salah, dan tak lupa pula sepasang jeweran menghampiri telinga ku. Tapi tak apalah, setidaknya hari ini aku mendapatkan penglaman. Ingat, pengalaman adalah guru yg kejam, tetapi kita akan belajar dengan cepat.
Setelah di jewernya, akhirnya aku di perintahkan untuk duduk di bangku. Selepas duduk di bangku ibu guru mengeluarkan sepatah motivasi, “pendidikan mempunyai akar yg pahit, tetapi buah yg manis” ibu guru memberi motivasi layaknya Mario teguh, “maksudnya ibu guru ?” kami dengan muka melongo kembali bertanya, “maksutnya, mungkin sekarang kalian merasakan pahitnya pendidikan, namun nanti kalian akan tau manisnya hasil perjuangan” ujar guruku.

Setelah mendengar motivasi dari ibu guru, kebanyakan dari kami tiba-tiba belajar sebegitu giatnya, termasuk irwan. Dan beberapa hari kemudian UKK(Ujian Kenaikan Kelas) pun tiba. Tangan ku menari lemah gemulai diatas clipboard. Dan hasilnya, lumayan memuaskan. Dari yg dulunya dapet rangking delapan belas, sekarang meningkat menjadi tujuh. “Hamdan wa syukurilah” ujar irwan yg letaknya entah dimana.

PASUKAN SIAP TEMPUR UN

Jujur aku bingung, kenapa di Indonesia harus mengadakan yg namanya Ujian Nasional, apa UN ini ajang evaluasi belajar, untuk meningkatkan mutu pendidikan, atau bahkan ajang pamer-pameran penghapus dan pensil baru. Lagian, soal-soal di UN ini tidak sesuai dengan kehidupan pada aslinya, contohnya  pelajaran fisika “Bapak Beny naik ke atas gedung setinggi 100 Meter, lalu menjatuhkan batu dengan gaya potensial 35 Newton. Hitung priode jatuhnya Batu !”, emang si bapak ini tidak ada kerjaan lain apa ?, kenapa tidak menjatuhkan satu koper uang logam aja ?. Coba deh, pemerintah membuat soal yg sesuai dengan logika, dan yg bisa merangsang nalar siswa untuk berpikir kritis. 

Dulu aku pernah ikutan tes IQ, dan hasilnya cukup menggemparkan, ternyata IQ ku sekelas dengan IQ nungging. Berhubung sebentar lagi try out, akhirnya aku mengikuti bimbel(Bimbingan belajar), dan hasilnya lumayan, iya lumayan hancur maksudnya. Temanku terheran melihatku, dengan muka sok-sok’an ngerti temanku bertanya “kamu gk nyesel ikutan bimbel, tohh jugak nilai mu gitu-gitu aja”, dengan mimik tersenyum aku menjawab “ndak tuh, ngapain harus nyesel ? tapi hancur-hancur gini, minimal aku tidak mencontek !”. Lagian buat apa dapat nilai excellent, jika itu semua didapatkan dengan nyontek. Ingat,”sekolah itu kaya game. Akan lebih keren, jika kamu namatinnya tidak menggunakan Cheat”.

Berkat nilai jeblok kemarin, aku akhirnya mengevaluasi kembali, kenapa materi sulit dicerna sama otak ?, jawabannya sudah dikupas setajam silet di Pagle(Paman Google), menurut  Pagle sih, salah satunya karna metode belajar yg membosankan. Aku kembali bertanya, “metode belajar apa yg tidak membosankan”, dan jawabannya sudah di kupas tuntas setajam samurai di Tahoo(Tante Yahoo), ternyata metode belajar yg tidak membosankan adalah dengan belajar secara berkelompok.

Dengan bermodalkan jawaban dari Pagel dan Tahoo, akhirnya aku membuat kelompok belajar untuk persiapan UN. Nama dari kelompok belajarku adalah ASTUN(Aliansi Siap Tempur Ujian Nasional), kelompok ini beranggotakan empat mahluk gaib, diantaranya Aziz,Majdi,Aldi,Didin(Aku).

Dalam merekrut mahluk-mahluk gaib ini, aku harus mengimi-imingi mereka agar mereka mau masuk kedalam ASTUN. contohnya aja Aziz, dalam membujuk mahluk ini aku harus keliling-keliling lapangan nyari bakwan. Tidak sampai disitu, Aldi pun ikut berpartisipasi dalam menjajahku, tantangannya adalah aku harus membeli es cream ditukang bakso.

Setelah menuruti kemauan dari mahluk gaib ini, akhirnya mereka terbujuk untuk ikut dalam membuat kelompok belajar. Kami semua memiliki keahlian yg berbeda-beda contohnya Aziz pintar dalam pelajaran Matematika dan IPA, Aldi pintar dalam Bahasa Inggris, Majdi pintar dalam Bahasa Indonesia, dan Aku pintar dalam melihat perkembangan film serial Uttaran.

Karena kami memiliki kemampuan yg berbeda-beda, dalam proses belajar kami menggunakan metode GANJAR yaitu Gerakan Ajar-Mengajar. Maksut dari metode kami adalah, siapa yg paling unggul dalam suatu mata pelajaran maka dialah yg menyampaikan materi, contohnya aja Aziz yg pintar dalam pelajaran Matematika maka dialah yg akan menyampaikan materi dalam pelajaran Matematika.

Seiring berjalannya Ojek yg meninggalkan pangkalannya, akhirnya Ujian Nasional pun tiba. Karena kami telah mempersiapkan diri baik secara materi,mental,fisik, maupun sikat gigi. Akhirnya kami menjawab soal Ujian Nasional dengan tangan yg lemah gemulai.

Hari ini entah di tunggu-tunggu atau bahkan tidak diharapkan ada, tapi kebanyakan dari kami tidak mengharapkan hari ini, yaitu hari pengumuman. Dengan muka ragu kami melihat madding yg tertancap rapi beberapa helai kertas pengumuman, dan tidak disangka kami lulus dengan nilai yg mungkin memuaskan hati orang tua kami.